Bismillah,
يَا
مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan
hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HR.Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dan
dishohihkan oleh Adz Dzahabi)
Sebuah kalimat do’a luar biasa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah SAW
kepada Rabb-Nya sehingga hatinya selalu dijaga dalam kebaikan. Sebagaimana
disampaikan oleh Syaikh Sholih Al Fauzan bahwa
baiknya hati adalah dengan takut pada Allah, rasa khawatir pada
siksa-Nya, bertakwa dan mencintai-Nya. Jika hati itu rusak, yaitu tidak ada
rasa takut pada Allah, tidak khawatir akan siksa-Nya, dan tidak mencintai-Nya,
maka seluruh badan akan ikut rusak karena hati yang memegang kendali seluruh
jasad. Jika pemegang kendali ini baik, maka baiklah yang dikendalikan. Jika ia
rusak, maka rusaklah seluruh yang dikendalikan.
Demikian pula dengan komitmen, perihal yang tersusun atas keyakinan,
keteguhan, dan penuh pertanggungjawaban ini berasal dari sana, dari hati yang
bersih, tulus, ikhlas dan percaya kepada
Yang Maha Mengetahui segala perkara, Allah SWT. Jika komitmen diibaratkan
sebagai hati yang mudah dibolak-balikkan, maka hanya ada satu kekuatan untuk
mempertahankannya, yakni taqwa. Ketaqwaan
kepada Nya membuat seseorang mampu menjaga komitmen yang dibuatnya sebab ia
yakin bahwa itu adalah janjinya kepada Sang Pencipta. Allah Maha Ghaib, tak
tampak oleh mata tetapi tetap ada. Komitmen pun tak kasat mata, tapi ia ada pada
setiap jiwa yang hati dan pikirannya terpelihara karena cinta pada Rabb-Nya.
Komitmen untuk bersungguh-sungguh (istiqomah)
dalam mengerjakan sesuatu addalah hal fundamental yang seharusnya dimiliki oleh
setiap pribadi. Komitmen tidak dapat dipegang sekadar melalui kalimat spontan
dan instan, tetapi setiap yang berkomitmen terhadap suatu hal pantas menanggung
setiap konsekuensinya dari hati, lisan, dan amal perbuatan.
Sebagai seorang
organisatoris, komitmen dibuat bukan setelah organisasi itu terbentuk atau
setelah seseorang dilantik sebagai bagian dari organisasi, melainkan sebelum ia
mengambil keputusan untuk terlibat dalam organisasi dan sejak saat itu, ada
ribuan ide yang siap dikemas dalam satu komitmen untuk direalisasikan sebagai
bentuk dedikasi terhadap organisasi. Seorang organisatoris yang memiliki
komitmen adalah seorang pribadi yang visioner yang mampu memikirkan, merancang,
dan menentukan solusi dari setiap risiko dan hambatan yang akan ia hadapi
kedepan. Organisatoris yang bijak adalah yang ketika ia berbicara dapat
dipercaya, ketika berjanji ia tidak ingkar, dan ketika diberi amanah ia mampu
bertanggung jawab karena komitmen yang ia buat berasal dari segumpal darah yang
dijaganya dengan iman dan senantiasa mengharap ridho-Nya atas apa yang
dikerjakannya.
Di samping itu, ada dua hal yang harus terinternalisasi dalam naluri para
organisatoris, yaitu siap menjadi seorang pemikir sekaligus pekerja.
Organisatoris harus bersungguh-sungguh dalam menuangkan ide kreatif dan
aspirasi yang inovataif untuk memperjuangkan sebuah organisasi yang lebih baik
dan bermanfaat bagi banyak orang karena organisasi dibangun dengan visi dan
misi, diperkuat dengan tujuan, dan dipertahankan untuk kemaslahatan, serta
diperbaiki dengan program dan evaluasi. Setiap yang terlibat dalam organisasi
adalah motor yang harus menggerakkan roda kepemimpinan untuk mempercepat laju
kebaikan dan siap untuk memimpin atau dipimpin.
Tidak hanya itu, komitmen dalam organisasi adalah kemampuan dalam hal
manajemen hati dan prioritas. Organisatoris adalah yang siap mendukung dan
menjadi pelopor perubahan, siap menerima saran dan kritikan yang membangun,
siap berkorban untuk kebaikan tanpa mengabaikan kewajiban.
Orang-orang yang istiqomah dalam
komitmen yang dibuatnya adalah yang tetap bangkit ketika ia jatuh, yang memohon
kekuatan hanya kepada Allah saat ia lemah, dan yang memelihara qalbu-nya untuk senantiasa berhusnuzhan pada Allah atas setiap
kejadian.
Dengan demikian, komiten merupakan ke-istiqomah-an
yang datangnya dari bagian yang kecil dan mudah terombang-ambing, yakni hati. Komitmen
dalam organisasi adalah berjanji pada diri sendiri, berbisik dan bertekad kuat
dalam hati untuk mengabdikan diri dalam organisasi karena Ilahi.
Komentar
Posting Komentar